« Home | Propil Pembuwat » | Filosofi Punk »

Cinta Terlarang

Sore ini, daerah tempat tinggal Topan disinggahi hujan kembali. Rasanya kalau sedang hujan seperti ini memang paling enak kalau dinikmati dengan tidur. Sama hal nya dengan Topan. Setiap hujan, orang yang berwatak super duper males ini pasti paling pertama yang sudah terlelap dengan nyenyak.
Namun berbeda dengan hari ini, Topan terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu. Bahkan hujan yang memercikinya tidak dapat membuatnya beranjak dari sudut kamarnya. Apakah ia sedang memikirkan pelajaran di sekolah? Ah tidak, tidak mungkin, hari ini merupakan hari ke enam minggu ini ia membolos sekolah. Bahkan surat panggilan untuk orang tuanya baru saja ia robek.
Bersama redanya hujan, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk aja, Guh.” Ujar Topan sambil beranjak.
Teguh masuk dengan cengengesannya yang khas.
“Loe dukun ya?, kok tau orang ganteng yang dateng?” seru Teguh dengan gaya konyolnya.
“Loe pasti belum mandikan, dari kemarin?” sindir Topan.
“Mhm...” Teguh hanya bisa tersyum.
“Guh,” ujar Topan menghentikan senyumnya.
“Kenapa loe? Mikirin gue ya? Gue tau kok gue ganteng, tapi...”
“Bukan itu!” sela Topan.
Teguh mendadak diam dan sedikit gemetar. Belum pernah ia melihat Topan berprilaku serius.
“Emangnya ada apaan sih?”
“Guh, gue sekarang lagi suka sama seseorang.”
“Trus kenapa? Yang loe suka cewekkan?”
“Iya.”
“Lantas”
“Tuh cewek udah punya cowok.” Rintih Topan.
“Hah! Loe gila kali ya?” pekik Teguh
“Kalau disuatu saat loe ngeliat sebuah barang, dan merasa suka sama tuh barang. Apa salah kalau loe lantas ingin memilikinya?”
“Emang betul loe nggak salah. Tapi loe harus ingat sama satu hal. Itu barang udah ada yang punya. Loe nggak berhak ngerebut tuh barang dari si pemiliknya. Lagian, belum tentu itu barang rela lw milikin kan.”
Topan hanya membisu, matanya berubah menjadi berair. Dan tak terasa di matanya mulai menetes air-air kesedihan.
“Lantas gue harus bagaimana?” Pekik Topan sambil menangis.
“Ingat Pan, cewek di dunia ini tuh ratusan bahkan ribuan. Dan cewek itu bukan hanya sekedar barang untuk dimiliki. Ia juga punya perasaan, ia nggak bisa dipaksa untuk bisa dimiliki.”

By: Topan